Selasa, 04 November 2025

mau cerita apa ya...ini tanggal 5 November 2025. Mau bilang sama Tuhan...bisa gak balikkan kondisi hatiku seperti sebulan lalu.


kadang ya denger nasihat ustadz di TT atau di ig...di syukuri saja yang terjadi pada diri kita.
enggak sih...bukan tidak bersyukur. Alhamdulillah banget di anugerahkan sesuatu yang menyenangkan, yang membuat hati menjadi hangat. Harusnya saya optimis kan. 
Tapi yang selalu indah pada awalnya...yang terjadi di saya selama ini...hasilnya akhirnya bikin mewek kan.
Bikin trauma rasanya sih...sampe bbrpa tahun ini jatuhnya stress


Selasa, 28 Oktober 2025

KEKUATAN PIKIRAN DAN TAKDIR DALAM HIDUP



 Lagi mikir ini..apakah kekuatan pikiran bisa menjadi bagian dari jalan hidup...takdir hidup. Masih menjadi misteri...agak riskan untuk dibahas karena saya gak punya kompetensi tentang hal ini.

Penasaran banget !!!




RINDU YANG TUMBUH BERSAMA WAKTU

Hampir menginjak bulan ke sebelas sejak suami pergi untuk selamanya, dan dua setengah bulan sejak anak-anak tak lagi tinggal serumah. Jangan tanya bagaimana rasanya — karena bahkan kata sepi pun kadang terasa terlalu kecil untuk menggambarkan hari-hari yang saya jalani. Dulu, rumah ini selalu ramai dengan suara, langkah kaki, dan tawa kecil yang kadang membuat saya jengkel tapi juga bahagia. Sekarang, hanya suara kucing yang sesekali mengeong, seakan ikut berbicara dengan saya di tengah sunyi.

Tiap malam, kenangan seperti film lama yang diputar kembali. Saya teringat anak bungsu saya yang kini sedang merantau. Tiap gerak dan tingkah lakunya muncul begitu saja di kepala — dari cara ia memanggil saya dengan nada manja, sampai wajahnya saat tertidur lelap di kamar. Selama delapan belas tahun lebih kami hidup berdampingan; saya menemaninya tumbuh dari bocah kecil yang  hingga remaja yang berani menempuh jalan hidupnya sendiri. Kini, saat semua rutinitas itu hilang, saya baru menyadari betapa berharganya momen-momen sederhana yang dulu terasa biasa saja.

Setiap kali rindu menyeruak, saya mencoba sibuk. pura-pura sok sibuk, dengerin musik, atau memberi makan kucing-kucing yang sekarang menjadi teman setia. Tapi tetap saja, ada waktu-waktu di mana hati terasa kosong. Ada kursi di meja makan yang kini selalu kosong. Ada piring yang tak lagi terpakai. Saya sudah gak pernah masak lagi kecuali sabtu dan minggu. Lucu ya rasanya, tubuh ini masih beradaptasi, sementara hati sepertinya masih menolak kenyataan bahwa inilah hidup yang saya harus jalani sekarang.

Namun, di balik semua itu, saya juga belajar. Belajar berdamai dengan sunyi. Belajar menerima bahwa hidup memang terus bergerak, meski kita tidak selalu siap. Saya mulai memahami bahwa cinta seorang ibu tidak berhenti saat anaknya pergi jauh. Ia justru menemukan bentuk baru — menjadi doa yang mengalir setiap malam, menjadi harapan yang diam-diam tumbuh bersama udara pagi, menjadi kekuatan untuk terus melangkah walau sendiri.

Kadang saya tertawa sendiri mengingat hal-hal kecil. Anak saya dulu selalu nanyain begitu dia bangun tidur, "mamah nanti kita makan apa?".  Dalam diam, kenangan itu membuat saya tetap merasa dekat dengannya. Rasa rindu memang tidak pernah hilang, tapi perlahan berubah wujud — dari perih menjadi syukur. Syukur karena pernah diberi kesempatan mendampingi dan mencintai dengan utuh.

Saya ingat bahwa suami syapun tidak meninggalkan pesan apapun ketika dia meninggalkan saya. Dulu saya tak begitu yakin, tapi sekarang saya tahu, kekuatan itu memang tumbuh perlahan — bukan karena saya tidak lagi merasa sedih, tapi karena saya mulai memahami bahwa setiap kehilangan membawa pelajaran tentang keteguhan. Bahwa cinta yang sejati tidak membutuhkan kehadiran fisik untuk tetap hidup.

Di sela-sela sunyi, saya juga menemukan waktu untuk mengenal diri sendiri lagi. Saya menulis, merawat kucing, membaca, dan kadang hanya duduk di kamar dan sibuk dengan khayalan cerita yang saya ciptakan sendiri. Saya belajar bahwa kesepian tak selalu buruk; ia bisa menjadi ruang untuk menyembuhkan, ruang untuk berbicara dengan diri sendiri, dan ruang untuk mengenang dengan tenang.

Lucunya, setiap kali saya merasa benar-benar sendiri, kucing-kucing itu datang dan duduk di pangkuan saya, diam tanpa suara. Mereka tidak memberi nasihat, tidak menanyakan apa-apa, hanya menemani. Tapi entah mengapa, kehadiran kecil itu cukup membuat hati sedikit lebih hangat. Mungkin, Allah tahu bahwa saya masih butuh teman berbulu untuk menambal bagian hati yang kosong.

Waktu berjalan terus. Anak saya kini mulai terbiasa hidup mandiri di perantauan. Kadang mengirim pesan, “Mah, doakan Kalip ya ma.” Dan saya pun tersenyum di depan layar ponsel, membalas pelan, “IMamah selalu doakan adek.” Percakapan singkat itu cukup membuat dada saya sesak oleh rindu dan bangga sekaligus. Ia sedang belajar hidup, dan saya sedang belajar melepaskan. Dua pelajaran yang sama-sama tidak mudah, tapi saling melengkapi.

Hehe… begitulah ibu yang anaknya jauh, kadang cengeng, kadang kuat, kadang tertawa di antara air mata. Tapi saya percaya, setiap jarak ada artinya, setiap sunyi ada pesannya. Dan mungkin inilah cara Allah


mengajarkan saya untuk kembali menemukan makna: bahwa kasih seorang ibu tidak pernah berkurang karena jarak — ia justru tumbuh, menyejukkan, dan menguatkan siapa pun yang pernah menjadi rumahnya.

Jumat, 04 Juli 2025

AI dan kekhawatiran Orangtua



 Beberapa waktu lalu, saya ditanya oleh seorang teman sambil menyeruput kopi sachet kapal api, “Bro, AI itu katanya bisa gantiin guru ya? Gawat nih. Bisa-bisa nanti anak saya belajarnya sama robot, bukan sama Bu Rina.”

Saya tertawa. Bukan karena pertanyaannya konyol, tapi karena saya tahu... AI itu memang canggih. Tapi masih butuh les tambahan dalam hal jadi manusia.

Luis von Ahn, pendiri Duolingo, bilang hampir semua bisa diajarkan oleh komputer. Bahkan, AI bisa menyesuaikan gaya belajar anak. Mau belajar sambil denger suara hujan di hutan Amazon? Bisa. Mau belajar pakai suara bapak-bapak baca soal pakai intonasi sinetron? Bisa juga.

Bill Gates juga ikut nimbrung. Katanya, guru hebat memang langka, tapi AI bisa bikin pembelajaran hebat jadi lebih merata. Gratis pula. Waduh, guru mana yang nggak deg-degan?

Tapi tunggu dulu. Menurut Prof. Sasmoko dari Binus University, membawa angin segar (dan logika yang adem). Beliau bilang, AI bukan pengganti guru. AI itu cuma “asisten pribadi” versi high-tech yang bantu guru jadi lebih manusiawi.

“Loh, maksudnya gimana?” tanya teman saya.

Saya jawab, “Bayangkan kalau guru nggak harus ngoreksi PR tengah malam sambil ngantuk. Semua yang administratif ditangani AI. Jadi guru bisa fokus, mendengarkan, membimbing, dan memberi makna.

Coba pikir… AI mungkin tahu kalau 1 tambah 1 itu 2. Tapi saat anak nangis karena merasa bodoh, siapa yang duduk di sampingnya sambil bilang, “Nggak apa-apa, kamu hebat kok… kita coba lagi, ya.”

AI bisa jadi tahu algoritma. Tapi belum tahu rasanya ditinggal murid pindah sekolah tanpa pamit 😁

Makanya, kata Prof Sasmoko, guru di era AI itu bukan penyampai ilmu, tapi arsitek pengalaman belajar. Kelas bukan lagi tempat hafalan, tapi tempat eksperimen, tempat gagal berjamaah, dan tempat menemukan jati diri (sambil makan bekal di laci, diam-diam).😁

Bayangkan kelas masa depan: anak-anak brainstorming bareng AI, bikin prototipe ide liar mereka, lalu dievaluasi bareng guru dan teman-teman. Seru! Lebih seperti startup daripada sekolah zaman dulu.

Tapi untuk sampai ke sana, kita perlu 👇

Kurikulum yang futuristik tapi nggak bikin pusing

Guru yang dilatih jadi kreator, bukan sekadar pengantar silabus

Internet lancar, bukan cuma lancar saat scroll TikTok

Dan tentu, regulasi yang berpihak pada kemanusiaan (dan bukan bikin kepala guru cenat-cenut)

Yang perlu diingat, AI tidak punya hati nurani. Ia hanya secanggih data yang kita masukkan. Maka harus ada manusia yang mengarahkan & mengajari AI soal empati, keadilan, dan cara menghadapi murid yang suka nanya, “Bu, ini masuk ujian nggak?”

Jadi tenang… Guru tetap dibutuhkan. Bahkan lebih dari sebelumnya. Karena teknologi boleh berkembang, tapi nilai-nilai luhur, kehangatan, dan ketulusan tidak bisa di-install.

Dan terakhir saya bilang ke teman saya itu:

“Bro, kalau anak kamu belajar sama robot, mungkin dia bisa pinter. Tapi kalau belajar sama guru yang baik, dia bisa jadi manusia utuh yang nggak cuma tahu rumus, tapi juga tahu cara mencintai hidup dan menghargai orang lain.”

Dia pun manggut-manggut sambil menambahkan kopi kedua.

Kalau kamu guru, tersenyumlah 🙏. Kamu bukan akan tergantikan. Kamu justru sedang naik level.

Karena di dunia yang makin otomatis, peran paling penting justru datang dari yang tak tergantikan, hati, empati, dan cinta.

Dan itu… hanya manusia yang punya 🙏

Sumber: Ruang GTK Kemdikbud 2025 (jadi bukan tulisan saya ya..jangan ge er)




Minggu, 23 Maret 2025

IS DAN KELAYANGNYE

 1. IS DAN KELAYANGNYE

Di Kote Pontianak ade gang yang bername gang Belibis yang di tengah gang ade sebuah paret besak. Di gang itu adelah seorang anak laki laki yang tinggal bersame ayah dan emaknye, name anak itu adelah Iskandar atau biase dipanggil Si Is. Si Is merupekan seorang anak yang ceria dan penoh besemangat, banyak kawannye di sekolah dan di gang. Sekarang ini, Is berumor 11 tahun dan dudok di kelas V SD. Die bersekolah di SD 14 Pontianak Kote.  Setiap hari setelah balek sekolah, Is selalu membantu emaknye, entah itu nyuci piring ke…ataupon mengambek jemoran yang dijemor emaknye dibelakang rumah. Setelah makan siang dan membantu emaknye, biasenye si Is beristirahat dolok sebentar sambel menunggu hari agak sore, setelah hari agak tedoh sikit, Is biasenye ke lapangan kosong di gang Belibis untok bermaen maen bersame kawan-kawan gangnye, entahlah itu maen sepak bola ke…atau maen kelayang, maen guli atau gak maen betapok tapok.  Seperti sekarang nih, cuace Kota Pontianak agik panas bedengkang dan berangen, kalau dah cuace seperti ini..memang lah udah sangat cocok jike bermaen kelayang. Makenye banyak sekali budak gang yang agik maen kelayang, tak terkecuali si Is pun maok juga bemaen kelayang.

Senin, 10 Maret 2025

PROJECT GUNUNG KEMBAR SINGAWANG NGAWANG

 Part 1

Di sebuah ibukota provinsi negara Ontosoro yang bertetangga dengan negara Konoha, seorang penulis script cerita sinetron stasiun TV swasta "INDASAIR" termenung memikirkan calon sinetron yang harus siap produksi setelah lebaran ini. Bung Choki Sidempulan dengan mata menerawang jauh...merancang cerita yang sudah mucul idenya di otak beliau tentang perseteruan sebuah keluarga yang ingin menaklukkan Gunung Kembar Singawang Ngawang yang mempunyai 2 puncak...Puncak "Yo'opo" dan Puncak "Taktahu" yang dari jauh kelihatan sangat hijau, kedua puncak inilah yang membuat penasaran siapapun yang memandangnya, dan juga kedua puncak ini merupakan target pendakian oleh keluarga tersebut. Dan yang membuat keluarga ini termotivasi karena mendengar, membaca via aplikasi TIkTIkRintikhujan seorang penulis yang bernama FIERCHA BANDARI yang berhasil mendaki dan mengalahkan Puncak Pyramid CARTENZDO di pegunungan JAYAMENJAYA daerah Papanakamu yang tingginya mencapai 4.884 mdpl.

Bung Choki yang akhir-akhir ini sering terlambat datang ke kantor, seolah-olah ketiduran sehabis sahur, padahal itu hanya sekedar alasan, ya mana juga ada yang mau percaya...secara Bung Choki bukan umat Islam, tidak ada yang tahu agama pasti Bung Choki, kalo lebaran..ikut lebaran, natal..ikutan natal , imlek ikutan merayakan juga. Kalo ada istilah Multiple intelegence..Bung Choki maunya dibilang Multilateral...nah ini nih...kayaknya ngasal aja, bukankah multilateral itu perdagangan lebih dari dua negara ya...aduuh ngaco lu Chok..chok...

Pagi ini setibanya dikantor, langsung absen kehadiran dengan aplikasi yang bernama "ehngantor". input aktivitas dengan aktivitas pertama "ngapel"..padahal itu bohongan, dan pikiran Bung Choki langsung mengembara, memikirkan tokoh sentral yang ada dalam cerita yang akan ditulisnya. Akhirnya Bung Choki Sidempuan menemukan dua sosok tokoh utama Ketua Tim Pendakian dari sebuah keluarga tersebut. Yang mana kedua tokoh itu merupakan dua wanita STW alias Setengah Twing Twing..bukan Ting Ting ya...Pembaca halooo... harus bisa ya bedain Twing Twing dan Ting Ting. Kalo Ting Ting ya yg masih muda gitu..belasan tahun, kalo Twing Twing ini alias udah nenek-nenek bangkotan. kedua orang buibu itu, yang satu bernama Ibu SAMSINAR alias Samsiah Bersinar-sinar dan ibu satunya lagi bernama Ibu MALINER alias ibu ber-eyeliner karena kalo udah dandan sering menggunakan eyeliner tebel atau garis hitam dimata.

Sebelum dilanjut..Kenalan yuk Netizun dengan penulis kita yang bernama CHOKI SIDEMPULAN 

Choki Sidempulan, pria 39 tahun kelahiran Batak Padang Mandalika yang betah melajang padahal kalo dilihat dari ujung pipet...setali tiga uanglah dan 14 garing 15 dengan CORNELIO SUNNY seorang aktor film pasangan dari RATU SOFYA. wee...kurang ganteng apa kamu Chok. Marga Sidempulan didapat oleh Choki itu mungkin ya...karena moyangnya Choki ini dulunya seorang tukang dempul.gak tahu ya dempul apa...bisa bedak dempul, cat dempul atau dempul yang lainnya. Tidak menikah sampai saat ini, karena ketika tiap berkenalan dengan seorang gadis, Choki selalu menceritakan kebiasaannya yang membuat bangga dirinya, yaitu kalo tidur ngorok dan liuran. Heraan ...kok bisa ya prilaku jorok gitu bikin bangga....memang anti mainstream lelaki satu ini. Tapi segitu-gitunya, Bung Choki ini tidak bisa disepelekan lho, beliau adalah PIMPNAN REDAKSI majalah "JONGOS" dan penulis banyak script cerita sinetron di stasiun TV swasta "INDASAIR" yang selalu mempunyai rating tinggi di setiap tayangan sinetronnya.

 

NB: Aduh lelah juga ya nulis...pembaca jangan ngarap ya..cerita ini tayang tiap hari...tergantung lah isi hati penulisnya.

Rabu, 05 Februari 2025

Cerita Untuk Rudy

 Hari ke-26




Pagi ini...Rabu tanggal 5 Pebruari 2025 setelah absen di kantor...buru-buru balik lagi Rud ..Rina ke rumah. Setelah malam sebelumnya kita berkumpul di Karimun 38 untuk tahlilan Hari ke 25 nya Rudy. Tak terasa udah 25 hari Rudy tidak bersama Rina. Hari ini..setelah beli bunga yang banyak untuk ketemu Rudy di rumah Rudy yang baru...Rina ambil air di rumah, trus langsung jam 09.00 WIB pagi...udah sampe ke rumah Rudy. Hari ini terasa rindu Rud..pingin cerita-cerita tentang anak anak-anak seperti biasa.

Lama Rina di rumah Rudy...Rina pingin cerita Rudy, kalo dunia yang Rina rasakan sudah tidak sama seperti waktu Rudy masih ada. Rina bisa berjalan dengan dada dan kepala tegak, sekarang udah ndak bisa seperti dulu Rud. Rina udah takut untuk membuat rencana-rencana tentang anak-anak. Kita kan mau member berenang di Golden Tulip, Rudy mau jenguk Ipah di Aussie bulan April, Rudy mau bolak balik nungguin Kalip kuliah, Rina mau umroh sama anak-anak di akhir tahun...dan kita juga mau bikin acara resepsi nikahan Ipah kan Rud. Tapi ... sekarang Rina harus mengubur semua rencana itu Rud.

Kadang Rina bilang sama ALLAH...Ya Allah, gimana caranya meng-Ikhlaskan Rudy untuk bersamaMu sekarang. kenapa begitu susah Ya ALLAH...
Sampe dada Rina terasa sesak dan tertekan Rud. Karena hanya dengan Rudy...Rina bisa minta ini itu, Rina bisa mau bilang apa saja. 

Sekarang Rina cuma bisa ngomong sendiri...ndak ada yang follow up cerita Rina. Ndak ada yang bisa antar Rina ke mana- mana seperti Rudy antar Rina. Nunggu Rina ngetik atau kegiatan di kantor pas malam hari, yang tahan antar Rina bolak balik, yang mau bikinkan Rina kandang kucing besar lagi. 

Bisa ndak sih Rud...kita ketemu lagi nanti walau cuma sebeenntaaar saja. Rina mau cerita seperti dulu Rud.....