Lagi mikir ini..apakah kekuatan pikiran bisa menjadi bagian dari jalan hidup...takdir hidup. Masih menjadi misteri...agak riskan untuk dibahas karena saya gak punya kompetensi tentang hal ini.
Penasaran banget !!!
Penasaran banget !!!
Hampir menginjak bulan ke sebelas sejak suami pergi untuk selamanya, dan dua setengah bulan sejak anak-anak tak lagi tinggal serumah. Jangan tanya bagaimana rasanya — karena bahkan kata sepi pun kadang terasa terlalu kecil untuk menggambarkan hari-hari yang saya jalani. Dulu, rumah ini selalu ramai dengan suara, langkah kaki, dan tawa kecil yang kadang membuat saya jengkel tapi juga bahagia. Sekarang, hanya suara kucing yang sesekali mengeong, seakan ikut berbicara dengan saya di tengah sunyi.
Tiap malam, kenangan seperti film lama yang diputar kembali. Saya teringat anak bungsu saya yang kini sedang merantau. Tiap gerak dan tingkah lakunya muncul begitu saja di kepala — dari cara ia memanggil saya dengan nada manja, sampai wajahnya saat tertidur lelap di kamar. Selama delapan belas tahun lebih kami hidup berdampingan; saya menemaninya tumbuh dari bocah kecil yang hingga remaja yang berani menempuh jalan hidupnya sendiri. Kini, saat semua rutinitas itu hilang, saya baru menyadari betapa berharganya momen-momen sederhana yang dulu terasa biasa saja.
Setiap kali rindu menyeruak, saya mencoba sibuk. pura-pura sok sibuk, dengerin musik, atau memberi makan kucing-kucing yang sekarang menjadi teman setia. Tapi tetap saja, ada waktu-waktu di mana hati terasa kosong. Ada kursi di meja makan yang kini selalu kosong. Ada piring yang tak lagi terpakai. Saya sudah gak pernah masak lagi kecuali sabtu dan minggu. Lucu ya rasanya, tubuh ini masih beradaptasi, sementara hati sepertinya masih menolak kenyataan bahwa inilah hidup yang saya harus jalani sekarang.
Namun, di balik semua itu, saya juga belajar. Belajar berdamai dengan sunyi. Belajar menerima bahwa hidup memang terus bergerak, meski kita tidak selalu siap. Saya mulai memahami bahwa cinta seorang ibu tidak berhenti saat anaknya pergi jauh. Ia justru menemukan bentuk baru — menjadi doa yang mengalir setiap malam, menjadi harapan yang diam-diam tumbuh bersama udara pagi, menjadi kekuatan untuk terus melangkah walau sendiri.
Kadang saya tertawa sendiri mengingat hal-hal kecil. Anak saya dulu selalu nanyain begitu dia bangun tidur, "mamah nanti kita makan apa?". Dalam diam, kenangan itu membuat saya tetap merasa dekat dengannya. Rasa rindu memang tidak pernah hilang, tapi perlahan berubah wujud — dari perih menjadi syukur. Syukur karena pernah diberi kesempatan mendampingi dan mencintai dengan utuh.
Saya ingat bahwa suami syapun tidak meninggalkan pesan apapun ketika dia meninggalkan saya. Dulu saya tak begitu yakin, tapi sekarang saya tahu, kekuatan itu memang tumbuh perlahan — bukan karena saya tidak lagi merasa sedih, tapi karena saya mulai memahami bahwa setiap kehilangan membawa pelajaran tentang keteguhan. Bahwa cinta yang sejati tidak membutuhkan kehadiran fisik untuk tetap hidup.
Di sela-sela sunyi, saya juga menemukan waktu untuk mengenal diri sendiri lagi. Saya menulis, merawat kucing, membaca, dan kadang hanya duduk di kamar dan sibuk dengan khayalan cerita yang saya ciptakan sendiri. Saya belajar bahwa kesepian tak selalu buruk; ia bisa menjadi ruang untuk menyembuhkan, ruang untuk berbicara dengan diri sendiri, dan ruang untuk mengenang dengan tenang.
Lucunya, setiap kali saya merasa benar-benar sendiri, kucing-kucing itu datang dan duduk di pangkuan saya, diam tanpa suara. Mereka tidak memberi nasihat, tidak menanyakan apa-apa, hanya menemani. Tapi entah mengapa, kehadiran kecil itu cukup membuat hati sedikit lebih hangat. Mungkin, Allah tahu bahwa saya masih butuh teman berbulu untuk menambal bagian hati yang kosong.
Waktu berjalan terus. Anak saya kini mulai terbiasa hidup mandiri di perantauan. Kadang mengirim pesan, “Mah, doakan Kalip ya ma.” Dan saya pun tersenyum di depan layar ponsel, membalas pelan, “IMamah selalu doakan adek.” Percakapan singkat itu cukup membuat dada saya sesak oleh rindu dan bangga sekaligus. Ia sedang belajar hidup, dan saya sedang belajar melepaskan. Dua pelajaran yang sama-sama tidak mudah, tapi saling melengkapi.
Hehe… begitulah ibu yang anaknya jauh, kadang cengeng, kadang kuat, kadang tertawa di antara air mata. Tapi saya percaya, setiap jarak ada artinya, setiap sunyi ada pesannya. Dan mungkin inilah cara Allah