Jumat, 04 Juli 2025

AI dan kekhawatiran Orangtua



 Beberapa waktu lalu, saya ditanya oleh seorang teman sambil menyeruput kopi sachet kapal api, “Bro, AI itu katanya bisa gantiin guru ya? Gawat nih. Bisa-bisa nanti anak saya belajarnya sama robot, bukan sama Bu Rina.”

Saya tertawa. Bukan karena pertanyaannya konyol, tapi karena saya tahu... AI itu memang canggih. Tapi masih butuh les tambahan dalam hal jadi manusia.

Luis von Ahn, pendiri Duolingo, bilang hampir semua bisa diajarkan oleh komputer. Bahkan, AI bisa menyesuaikan gaya belajar anak. Mau belajar sambil denger suara hujan di hutan Amazon? Bisa. Mau belajar pakai suara bapak-bapak baca soal pakai intonasi sinetron? Bisa juga.

Bill Gates juga ikut nimbrung. Katanya, guru hebat memang langka, tapi AI bisa bikin pembelajaran hebat jadi lebih merata. Gratis pula. Waduh, guru mana yang nggak deg-degan?

Tapi tunggu dulu. Menurut Prof. Sasmoko dari Binus University, membawa angin segar (dan logika yang adem). Beliau bilang, AI bukan pengganti guru. AI itu cuma “asisten pribadi” versi high-tech yang bantu guru jadi lebih manusiawi.

“Loh, maksudnya gimana?” tanya teman saya.

Saya jawab, “Bayangkan kalau guru nggak harus ngoreksi PR tengah malam sambil ngantuk. Semua yang administratif ditangani AI. Jadi guru bisa fokus, mendengarkan, membimbing, dan memberi makna.

Coba pikir… AI mungkin tahu kalau 1 tambah 1 itu 2. Tapi saat anak nangis karena merasa bodoh, siapa yang duduk di sampingnya sambil bilang, “Nggak apa-apa, kamu hebat kok… kita coba lagi, ya.”

AI bisa jadi tahu algoritma. Tapi belum tahu rasanya ditinggal murid pindah sekolah tanpa pamit 😁

Makanya, kata Prof Sasmoko, guru di era AI itu bukan penyampai ilmu, tapi arsitek pengalaman belajar. Kelas bukan lagi tempat hafalan, tapi tempat eksperimen, tempat gagal berjamaah, dan tempat menemukan jati diri (sambil makan bekal di laci, diam-diam).😁

Bayangkan kelas masa depan: anak-anak brainstorming bareng AI, bikin prototipe ide liar mereka, lalu dievaluasi bareng guru dan teman-teman. Seru! Lebih seperti startup daripada sekolah zaman dulu.

Tapi untuk sampai ke sana, kita perlu 👇

Kurikulum yang futuristik tapi nggak bikin pusing

Guru yang dilatih jadi kreator, bukan sekadar pengantar silabus

Internet lancar, bukan cuma lancar saat scroll TikTok

Dan tentu, regulasi yang berpihak pada kemanusiaan (dan bukan bikin kepala guru cenat-cenut)

Yang perlu diingat, AI tidak punya hati nurani. Ia hanya secanggih data yang kita masukkan. Maka harus ada manusia yang mengarahkan & mengajari AI soal empati, keadilan, dan cara menghadapi murid yang suka nanya, “Bu, ini masuk ujian nggak?”

Jadi tenang… Guru tetap dibutuhkan. Bahkan lebih dari sebelumnya. Karena teknologi boleh berkembang, tapi nilai-nilai luhur, kehangatan, dan ketulusan tidak bisa di-install.

Dan terakhir saya bilang ke teman saya itu:

“Bro, kalau anak kamu belajar sama robot, mungkin dia bisa pinter. Tapi kalau belajar sama guru yang baik, dia bisa jadi manusia utuh yang nggak cuma tahu rumus, tapi juga tahu cara mencintai hidup dan menghargai orang lain.”

Dia pun manggut-manggut sambil menambahkan kopi kedua.

Kalau kamu guru, tersenyumlah 🙏. Kamu bukan akan tergantikan. Kamu justru sedang naik level.

Karena di dunia yang makin otomatis, peran paling penting justru datang dari yang tak tergantikan, hati, empati, dan cinta.

Dan itu… hanya manusia yang punya 🙏

Sumber: Ruang GTK Kemdikbud 2025 (jadi bukan tulisan saya ya..jangan ge er)